Skip to content

LANDASAN TEORI: SKRIPSI

December 5, 2011

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. A.    Tinjauan Pustaka
  2. Anak Berkesulitan Belajar
    1. Pengertian Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar merupakan terjemah dari istilah bahasa Inggris learning disability. Meskipun sesungguhnya kurang tepat karena learning artinya belajar dan disability artinya ketidakmampuan sehingga terjemah yang benar seharusnya adalah ketidakmampuan belajar. Tetapi di Indonesia lebih dikenal dengan berkesulitan belajar. Selain itu kata berkesulitan juga lebih dipandang lebih baik dan mempunyai harapan dari pada ketidakmampuan.

Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak lancar, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.

Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dengan demikian kesulitan belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu keadaan di mana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya” (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 2004: 77).

Menurut pendapat The United States Office of Education (USOE)  dalam (Mulyono Abdurrahman:6-7:2003) menyebutkan bahwa :

Kesulitan Belajar Khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan perceptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Bahkan batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.

Dari pernyataan tersebut dijelaskan bahwa kesulitan belajar mencakup permasalahan pemahaman anak dalam memahami materi yang diterima serta dalam permasalahan penggunaan bahasa ujaran atau penggunaan tulisan.

Gangguan mendengar muncul dalam bentuk anak tidak mendengar atau anak anak mengalami kekurangan pendengaran. Gangguan berpikir muncul dalam bentuk kurangnya kemampuan anak dalam hal kognitif. Sedangkan gangguan berbicara terlihat dari sulitnya anak memanfaatkan organ bicaranya untuk berkomunikasi atau kurangnya perbendaharaan suku kata yang dipunyai anak. Lalu kesulitan terlihat dari kemampuan anak membaca yang masih sangat lambat sekali atau bahkan mungkin anak masih belum terlalu faham dengan huruf – huruf tersebut. Kesulitan menulis terlihat dari tulisan anak yang tidak teratur dan jelek. Selain itu kesulitan menulis juga bisa disebabkan karena koordinasi tangan yangh kurang baik. Sedangkan untuk kesulitan mengeja muncul karena sedikitnya kosa kata ank atau masih sulitnya anak membedakan huruf. Kemudian untuk kesulitan berhitung terjadi karena anak yang  yang masih lemah tentang konsep berhitung atau juga karena anak yang rendah kognitifnya.

Learning Disabilities Association of America yang dikutip oleh Sylvia Untario (www.kesulitanbelajar.org.2011) menyebutkan bahwa :

Kesulitan belajar atau “Learing Disabilities, LD”, adalah habatan / gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Hal ini disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan neurobiologis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman dan berhitung.

Kesulitan belajar menunjukan pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap – cakap, membaca menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matemaika.

Pengertian anak berkesulitan belajar juga dikemukakan oleh Krochack, A. Linda and Thomas G Ryan dalam jurnal Special of Education Vol 22 No 3 2007 yang dikutip dari  (http : //www. google. co.id. International Journal of Special Education Children With Learning Disability. International Journal of Special Education Vol 22 No 3 2007)

Definition of a learning disability is “refer to a number of disorders which may affect the acquisition, organization, retention, understanding or use of verbal or nonverbal information. These disorders affect learning in individuals who otherwise demonstrate at least average abilities essential for thinking and/or reasoning. As such, learning disabilities are distinct from global intellectual deficiency. Learning disabilities result from impairments in one or more processes related to perceiving, thinking, remembering or learning. These disorders are not due primarily to hearing and/or vision problems, socio-economic factors, cultural or linguistic differences, lack of motivation or ineffective teaching”.

 

Yang berarti “ Kesulitan belajar mengacu pada sejumlah gangguan yang dapat mempengaruhi perolehan, organisasi, retensi, pemahaman atau penggunaan informasi verbal atau nonverbal. Gangguan ini mempengaruhi belajar pada individu yang dinyatakan dalam mendemonstrasikan kemampuan rata-rata minimal penting untuk berpikir dan / atau penalaran. Dengan demikian, ketidakmampuan belajar yang berbeda dari defisiensi intelektual global. Kesulitan belajar merupakan hasil dari gangguan dari satu atau lebih proses yang terkait dengan mengamati, berpikir, mengingat atau belajar. Gangguan ini bukan karena terutama untuk mendengar dan perbedaan / atau visi masalah, faktor-faktor sosial-ekonomi, budaya atau bahasa, kurangnya motivasi atau mengajar tidak efektif.

Specific learning disabilities means a disorder of one or more of the basic psychological processes involved in understanding or in using language, spoken or written, wich may manifest itself in an imperfect ability to listen, think, speak, read, write, spel, or do arithmaetic calculations. The term includes such conditions as perceptual handicaps, brain injury, minimal brain damage, dyslexia, and developmental aphasia. The term does not include children who have learning problems which are primarily the result of visual, hearing, or motor handicaps, of mental retardation, or environmental, cultural, or economic disadvantage. (Johnson et al, 1980 : 37).

Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang terlibat dalam pemahaman atau dalam menggunakan bahasa, lisan atau tertulis, yang dapat memanifestasikan dirinya dalam kemampuan sempurna untuk mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, spel, atau melakukan perhitungan dalam aritmatika. Istilah ini mencakup kondisi seperti cacat persepsi, cedera otak, kerusakan otak minimal, disleksia, dan afasia perkembangan. Istilah ini tidak mencakup anak-anak yang memiliki masalah belajar yang terutama hasil visual, pendengaran, atau cacat motor, keterbelakangan mental, atau merugikan lingkungan, budaya, atau ekonomi.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan  kesulitan belajar adalah salah suatu gangguan yang terjadi pada peserta didik yang menyebabkan peserta didik memperoleh hasil prestasi belajar yang rendah.

  1. klasifikasi anak berkesulitan belajar

membuat klasifikasi anak berkesulitan belajar tidaklah mudah karena pada dasarnya kelompok anak berkesulitan belajar merupakan kelompok yang heterogen. Mulyono Abdurrahman (2003:11) menyebutkan bahwa :

secara garis besar anak berkesulitan belajar dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, (1) kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities) dan (2) kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities). Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan motorik, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku social.  Sedangkan kesulitan belajr akademik menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan.kegagalan-kegagalan tersebut mencakup penguasaan ketrampilan dalam membaca, menulis, dan atau matematika.

Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004: 78), kesulitan belajar dapat dikelompokkan menjadi empat macam, antara lain :

1)        Dilihat dari jenis kesulitan belajar, yaitu ada yang berat dan ada yang sedang.

2)        Dilihat dari bidang studi yang dipelajari, yaitu ada yang sebagian bidang studi dan ada yang keseluruhan bidang studi.

3)        Dilihat dari sifat kesulitannya, yaitu ada yang sifatnya permanen/ menetap, dan ada yang sifatnya hanya sementara.

4)        Dilihat dari segi faktor penyebabnya, yaitu faktor inteligensi dan faktor non-inteligensi.

 

  1. Penyebab Kesulitan Belajar

Faktor penyebab kesulitan belajar belum diketahui secara pasti, Menurut Sunardi (2000 : 13) faktor penyebab kesulitan belajar dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu : faktor organik dan biologis, faktor genetik, dan faktor lingkungan.

1)      Faktor Organik dan Biologis

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa kesulitan belajar disebabkan oleh adanya disfungsi minimal otak (DMO) meskipun pada beberapa anak, gejala tersebut tidak ditemui. Selain adanya disfungsi minimal otak, kesulitan belajar ada bukti tentang adanya faktor biologis yang menjadi penyebab kesulitan belajar

2)      Faktor Genetik

Semakin disadari sekarang bahwa anak berkesulitan belajar cenderung terjadi dalam satu keluarga. Apakah ini merupakan faktor keturunan atau lingkungan, masih memerlukan penelitian yang lebih lamjut.

3)      Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang kurang mendukung menjadi salah satu penyebab anak berkesultan belajar.

Selain itu factor kesulitan belajar juga muncul akibat faktor yang terdapat di dalam diri siswa, dan faktor yang ada di luar diri siswa, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Adapun faktor penyebab hambatan dan masalah belajar yang terdapat di dalam diri siswa, antara lain :

1)        Kelembahan secara fisik, seperti suatu susunan pusat syaraf yang tidak berkembang secara sempurna, luka, cacat, atau sakit, sehingga membawa gangguan emosional, penyakit menahun, asma yang menghambat usaha-usaha belajar secara optimal.

2)        Kelemahan-kelemahan secara mental, baik yang dibawa sejak lahir maupun karena pengalaman yang sukar diatasi oleh individu yang bersangkutan dan kurang, seperti kelemahan mental.

3)        Kelemahan-kelemahan emosional, antara lain : rasa tidak aman

4)        Kelemahan yang disebabkan karena kebiasaan dan sikap-sikap yang salah, antara lain : banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak menunjang pekerjaan sekolah, menolak atau malas belajar, kurang berani dan gagal untuk berusaha memusatkan perhatian, kurang kooperatif dan menghindari tanggung jawab, sering membolos atau tidak mengikuti pelajaran, dan gugup.

Sedangkan faktor-faktor kesulitan belajar yang terletak di luar diri siswa, antara lain :

1)           Kurikulum yang seragam, bahan dan buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan dan perbedaan individu atau tidak tersedia.

2)           Ketidaksesuaian standart administratif sistem pengajaran, penilaian, pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar.

3)           Terlalu berat beban belajar siswa dan mengajar guru, terlampau besar populasi siswa di dalam kelas, terlalu banyak menuntut kegiatan di luar.

4)           Terlalu sering pindah sekolah, atau program, tinggal kelas.

5)           Kelemahan sistem belajar mengajar pada tingkat pendidikan asal sebelumnya.

6)           Kelemahan yang terdapat dalam kondisi rumah tangga, pendidikan, sosial ekonomi, keutuhan keluarga, ketentraman dan keamanan sosial psikologis.

7)           Terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstra kurikuler.

8)           Kekurangan makan atau gizi, nutrisi yang jelek

9)           Pandangan masyarakat yang salah terhadap pendidikan

10)       Tradisi hidup sosial ekonomi yang terbelakang

  1. Gejala – gejala Kesulitan Belajar.

Menurut pendapat Titik Sumiyati (2009:6) gejala – gejala kesulitan belajar antara lain :

1)      Menunjukkan hasil belajar rendah.

2)      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan

3)      Lambat dalam melakukan tugas – tugas kegiatan belajar.

4)      Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh atau menentang dan sebagainya.

5)      Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, seperti membolos, datang terlambat, dan sebagainya.

6)      Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar seperti pemurung, pemarah, dan sebagainya.

  1. Penanganan Kesulitan Belajar

Banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar anak didiknya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting yang meliputi :

1)         Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi anak didik.

2)         Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.

3)         Menyusun program perbaikan, khususnya program pengajaran perbaikan (Muhibbin Syah, 2003: 187).

 

  1. Metode Drill
    1. Pengertian Metode Drill

Metode drill disebut metode latihan ialah suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar siswa memiliki ketangkasan dan ketrampilan, kemampuan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari (Roestiyah, 2001: 125).

Berdasarkan pendapat tersebut menyebutkan bahwa metode drill ini digunakan dengan cara memberikan latihan – latihan secara terus menerus kepada anak agar anak dalam menguasai materi yang disampaikan anak tidak sekedar tahu tentang materi tersebut. Tetapi anak juga faham dan juga terampil dalam menghadapi materi yang disampaikan. Missal, ketika mempunyai anak yang masih kecil, kita mengajarinya berbicara sedikit demi sedikit dan terus kita ulang sehingga pada akhirnya anak bisa menguasai kata – kata yang sering kita ucapkan.

Syaiful Bakhri Djamaroh dan Aswan Zainal dalam Istiqomah (2009:4) yang berpendapat methode drill dapat juga disebut dengan methode training yaitu merupakan suatu cara mengajar yang baik, untuk menanamkan kebiasaan yang baik juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, kesempatan dan ketrampilan.

Menurut Sukarman (2008:6) Drill atau latihan merupakan metode mengajar yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung, karena metode drill menuntut siswa untuk selalu belajar dan mengevaluasi latihan-latihan yang diberikan oleh guru.

Menurut Suwarna, dkk dalam Siti Nurhayati (2009:3) drill yaitu cara mengajar dengan memberikan latihan secara berulang-ulang mengenai apa yang telah diajarkan guru sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan tertentu.

Menurut Syaiful Sagala (2006:217) metode drill merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan ketrampilan.

Menurut Sriyono (1992 : 112) metode drill adalah latihan dengan praktek yang dilakukan berulang kali atau kontinyu / untuk mendapatkan ketrampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari.

Dari semua pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode drill adalah suatu tekhnik mengajar yang dilaksanakan dengan memberikan latihan – latihan dan dilakukan secara berulang kali.

  1. Kelebihan dan Kekurangan

Diantara keuntungan metode drill adalah :

1)      Bahan yang diberikan secara teratur, tidak loncat-loncat dan step by step akan lebih melekat pada diri anak dan benar-benar menjadiu miliknya.

2)      Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera diberikan oleh guru memungkinkan murid untuk segera melakukan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahanya. Dengan demikian juga akan menghemat waktu belajarnya.

3)      Pengetahuan atau ketrampilan siap yang telah terbentuk sewaktu-waktu dapat dipergunakan dalam keperluan sehari-hari baik untuk keperluan studi maupun untuk bekal hidup di masyarakat kelak.

Adapun kerugian atau kelebihan metode drill :

1)      Dapat membentuk kebiasaan yang kaku.

2)      Menimbulkan adaptasi mekanis terhadap lingkungannya. Didalam menghadapi masalah, siswa menghadapi secara statis.

3)      Menimbulkan verbalisme. Respons terhadap stimulus yang telah terbentuk dengan latihan itu akan berakibat kurang digunakannya rasio sehingga, inisiatifpun terhambat.

4)      Latihan yang terlampau berat akan menimbulkan perasaan benci, baik kepada mata pelajaran maupun kepada gurunya.

5)      Latihan dilakukan dalam pengawasan yang ketat dan dalam suasana yang serius mudah sekali menimbulkan kebosanan dan kejengkelan. Akhirnya anak enggan berlatih dan malas atau mogok belajar.

(Sriyono : 1991 : 113-114)

 

 

 

 

  1. Membaca
    1. Pengertian Membaca

Berdasakan pendapat Faridha Rahim (2008 : 3) bahwa membaca sebagai proses visual merupakan proses menerjemahkan simbol tulis ke dalam bunyi. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis (critical reading), dan membaca kreatif (creative reading).

Membaca merupakan  salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis, yang reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca seorang akan mendapat memperoleh informasi, memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman baru ( darmiyati zuhdi dan budiasih : 2001 : 56-57 )

Soedarso dalam Abdurrohman Mulyono (1999 : 200-201) mengemukakan bahwa membaca merupakan aktivitas kompleks yang memerlukan sejumlah besar tindakan terpisah-pisah, mencakup penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan, dan ingatan.

Sedangkan Abdurrohman Mulyono (1999 : 200) menyebutkan bahwa membaca merupakan aktivitas kompleks yang mencakup fisik dan mental. Aktivitas fisik yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Orang dapat melihat dengan baik jika mampu melihat huruf-huruf dengan jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, mengingat symbol-simbol bahasa dengan tepat, dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan.

Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa (http://id.wikipedia.org/wiki).

Menurut peneliti pengertian membaca adalah proses pengubahan simbol-simbol huruf menjadi bunyi untuk mendapatkan informasi dari bacaan tersebut.

  1. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca.

Kemampuan membaca seseorang tidak dapat diperoleh secara langsung. Menurut sabarsih akhadiah (1991:26) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan membaca seseorang yaitu :

1)      Motivasi

Motivasi adalah faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan membaca. Sering kegagalan membaca terjadi karena rendahnya motivasi. Motivasi meliputi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik

2)      Lingkungan Keluarga

Orang tua memiliki kesadaran akan pentingnya kemampuan membaca akan berusaha agar anak – anaknya memiliki kesempatan untuk belajar membaca. Untuk itu orang tua memegang peranan penting untuk mengembangkan kemampuan membaca anak.

3)      Bahan Bacaan

Bahan bacaan akan mempengaruhi seseorang dalam minat maupun kemampuan memahaminya. Bahan bacaan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak, jangan terlalu sulit dan terlalu mudah. Faktor yang diperhatikan dalam penentuan bahan adalah topik dan taraf kesulitan bahasa.

 

  1. Kesulitan Belajar Membaca Aksara Jawa

Rustinah (2009:web) Dyslexia adalah suatu masalah kesulitan belajar khusus. Dyslexia mempengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar, mengolah, dan mengerti suatu informasi dengan baik. Secara khusus, hal ini menyebabkan masalah dalam membaca dan menulis karena seseorang dengan problem dyslexia mempunyai kesulitan mengenali dan mengartikan suatu kata, mengerti isi suatu bacaan, dan mengenali bunyi. Tentunya ini menghambat kemampuan seorang anak untuk belajar membaca

Disleksia sebagai syndroma kesulitan dalam mempelajari komponen – komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan komponen – komponen kata dan kalimat  dan dalam belajar segala sesuatu yang berkenaan denganwaktu, arah, dan masa (Mercer dalam Mulyono Abdurrohman, 2003 : 204).

Sedangkan menurut lerner dalam (mulyono abdurrahaman 2003 : 204) kesulitan belajar membaca atau disleksia sangat bervariasi, tetapi semuanya menunjuk pada adanya gangguan pada fungsi otak.

Sedangkan menurut Cece Wijaya, (1996: 65), timbulnya kesulitan belajar membaca, dikarenakan :

1)        Siswa lamban belajar memiliki rentang perhatian yang rendah, bertingkah laku dan kacau.

2)        Derajat aktivitas siswa lamban belajar rendah

3)        Siswa lamban belajar kurang mampu menyiapkan huruf dan kata pada ingatannya dalam waktu lama.

4)        Siswa lamban belajar kurang mampu menyimpan pengetahuan hasil pendengaran.

5)        Siswa lamban belajar kurang mampu membedakan huruf, angka dan suara.

6)        Siswa lamban belajar tidak suka menulis dan membaca

7)        Siswa lamban belajar tidak sanggup mengikuti penjelasan yang bersifat ganda.

8)        Tingkah laku siswa lamban belajar berubah-ubah dari hari ke hari.

9)        Siswa suka terdorong oleh perasaan emosional dalams pergaulan, mudah tersinggung dan sering marah.

10)    Siswa kurang mampu melakukan koordinasi dengan lingkungannya.

11)    Penampilannya kasar

12)    Siswa lambat dalam perkembangan berbicara

13)    Anak susah dalam memahami kata dan konsep

14)    Anak sulit akrab dengan orang dan benda

15)    Kemampuan berbicaranya terbatas pada satu pokok pesoalan

16)    Mereaksi tidak cermat terhadap aksi yang datang dari luar

17)    Sulit menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan

Dari beberapa pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa disleksia adalah adanya gangguan pada disfungsi otak atau adanya suatu gangguan lainnya yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan dalam membaca.

dari pernyataan tersebut berarti yang dimaksud kesulitan belajar membaca aksara jawa adalah adanya gangguan disfungsi otak atau gangguan yang lainnya yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan dalam membaca atau mengenali simbol aksara jawa.

 

  1. Aksara Jawa

Menurut Abdurrahman (2007:1) Aksara Jawa, merupakan salah satu peninggalan budaya yang tak ternilai harganya. Bentuk aksara dan seni pembuatannya-pun menjadi suatu peninggalan yang patut untuk dilestarikan. Tak hanya di Jawa, aksara Jawa ini juga digunakan di daerah Sunda danBali, meskipun ada sedikit perbedaan dalam penulisannya. Namun sebenarnya aksara yang digunakan sama

Pada aksara Jawa hanacarakabakuterdapat 20 huruf dasar (aksara nglegena), yang biasa diurutkan menjadi suatu “cerita pendek”:

 

Selain aksara jawa baku di atas juga terdapat beberapa akasara pelengkap atau pasangan dari aksara baku tersebut, anatara lain aksara murda, pasangan, aksara rekan. Berikut contoh aksara murda beserta pasangannya :

 

Gambar1. Aksara Murda dan pasangan murda

 

Gambar 2. Simbol pasangan aksara jawa

 

Gambar 3. Simbol aksara swara.

 

Gambar 4. Simbol sandangan aksara jawa

 

 

Gambar 5. Simbol aksara rekan

 

Gambar 6. Simbol tanda baca

(http://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Jawa)

 

  1. B.     Kerangka Berpikir

Kerangka pemikiran pada dasarnya merupakan arahan penalaran untuk bisa sampai pada pemberian jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan. Kerangka pemikiran berguna untuk mewadahi teori-teori yang kadang-kadang terlepas satu sama lain menjadi rangkaian yang utuh mengarah pada penemuan jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan.

Bahasa Jawa merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal khusus di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal-hal yang dipelajari dalam pelajaran bahasa jawa ada banyak, dari menulis aksara jawa, sopan santun, geguritan dan masih banyak lagi.

Adanya masalah kesulitan belajar mebaca pada anak merupakan salah satu faktor penyebab terhambatnya ketrampilan anak dalam membaca. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan ketrampilan membaca aksara jawa adalah penggunaan metode drill. Metode drill digunakan dalam peningkatan ketrampilan membaca karena dengan metode ini anak akan lebih mudah mempelajari pelajaran yang dimaksud. Pelajaran menjadi lebih mudah karena anak diberikan pelajaran tersebut secara berulang-ulang sehingga akan membuat anak memiliki daya ingat yang lebih kuat tentang bahasan yang dimaksud. Sehingga pada akhirnya anak dapat meningkatkan ketrampilan membaca dengan menggunakan metode tersebut.

ketrampilan membaca aksara jawa

rendah Faktor penyebab :

1)      Bukan pelajaran pokok

2)      Jarang digunakan

3)      Sulit

4)      …..

Metode drill

Ketrampilan membaca meningkat

Gambar 7. kerangka pemikiran

 

  1. C.    Hipotesis

Setelah penulis uraikan kajian teori dan kerangka pemikiran, maka penulis ingin merumuskan hipotesisnya.  Sedangkan hipotesis yang penulis rumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut bahwa penerapan metode drill dapat meningkatkan ketrampilan membaca aksara jawa untuk anak kelas IV SD Negeri Wonokerso 1.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: