Skip to content

open ended problem solving

January 3, 2011

Open-ended problem solving bukan soal cerita
Open-ended problem solving (OEPS) merupakan suatu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran metematika di tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah menengah atas. Pendekatan ini menekankan pada penciptaan suasana belajar cara siswa memperoleh pengalaman dalam menemukan sesuatu yang baru. Pendekatan ini di kembangkan pada awal 1970-an di Jepang dan saat ini telah menyebar dan digunakan di luar Jepang, di antaranya pembelajaran matematika di Amerika Serikat.
Pendekatan OEPS di Indonesia bukan merupakan hal baru. Akan tetapi dalam penerapannya, banyak guru yang salah arti. Guru mengidentikkan OEPS dengan pemberian latihan berupa soal cerita padahal kedua hal tersebut tidak sepenuhya sama.
Tujuan penerapan pendekatan OEPS dalam pembelajaran matematika adalah  membantu mengembangkan aktivitas dan berpikir matematik siswa secara serempak dalam pemecahan masalah. Pendekatan ini akan memberikan ruang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk menyalurkan kemampuan berpikir mereka dalam memecahkan masalah sesuai dengan minat yang dimilikinya sehingga akhirnya memperkuat intelengensi matematika mereka. Hal ini berbeda dengan pemberian latihan berupa soal cerita biasa. Dalam soal cerita biasa, sangat sedikit sekali atau bahkan mungkin tidak ada mengungkap kemampuan siswa untuk bernalar dan memecahkan masalah. Siswa hanya dituntut untuk bisa mengkaitkan bilangan-bilangan pada soal dengan satu atau dua operasi tertentu.
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: